Sejarah Sarung, Gamis dan Baju Koko

Posted on

Indonesia merupakan negara yang punya populasi Muslim terbanyak di dunia. Hal berikut tentu berpengaruh terhadap budaya yang dimiliki Indonesia. Saat agama Islam mampir ke Indonesia, banyak product budaya yang dihasilkan misal, pakaian Muslim. Busana Muslim juga banyak ragam jenisnya, ada gamis, pakaian koko, sarung, dan lain-lain.

Sejarawan Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bachtiar mengatakan pakaian Muslim yang dikenal di Indonesia merupakan bentuk akulturasi dengan budaya lain. Jadi, tidak semuanya merupakan asli Indonesia.

“Misalnya sarung. Sarung di Indonesia tradisinya sebenarnya udah ada. kecuali perempuan manfaatkan kemban, kecuali laki laki manfaatkan jarik. Ini berarti kain-kain itu udah digunakan, cuma tidak lebar ukurannya,” kata Tiar sementara dikonfirmasi, Selasa (12/1).

Islam mengajarkan Muslim untuk menutup aurat. Saat agama Islam jadi memasuk nusantara, terjadi percampuran dua budaya. Kain-kain berikut dibuat lebar agar mampu menutup aurat yang saat ini dikenal kain sarung.

Sedangkan gamis sebenarnya berasal dari Arab. Namun, perbedaannya terdapat terhadap kegunaan gamis. Jika di Arab digunakan untuk pakaian sehari-hari, di Indonesia digunakan untuk acara keagamaan saja. “Jadi ada semacam pelokalan atau reduksi dari kegunaan asalnya,” ujar dia.

Sama halnya dengan pakaian koko. Baju koko merupakan pakaian khas orang Cina yang dilengkapi kerah shanghai. Dahulu, banyak Muslim Cina yang manfaatkan pakaian koko agar sementara ini dikenal sebagai pakaian koko. Ada juga yang menyebutnya pakaian takwa.

Penggunaan pakaian koko pun mengalami reduksi fungsi. Tadinya digunakan untuk aktivitas umum. Namun, saat ini digunakan untuk aktivitas yang berwujud keagamaan.

“Semua itu akulturasi, sama juga seperti kami manfaatkan celana panjang sementara shalat. Celana panjang itu dikenalkan oleh orang-orang Belanda, namanya pantalon,” ucap dia.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Agama, Mohammad Baharun mengatakan pakaian koko yang disebut juga pakaian takwa kondang dikarenakan disita dari arti takwa. “Baju koko yang kondang disebut pakaian takwa mungkin dikarenakan biasa digunakan untuk shalat dan pakaian sementara pengajian dan acara keagamaan, maka disebut “takwa” dari kosakata “taqwa”, yaitu entitas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,” kata Baharun.

Baharun mengatakan Islam adalah agama yang tidak sesuaikan corak dan jenis pakaian umatnya. Terpenting, pakaian itu perlu menutup aurat sebagaimana yang diatur fikih. “Jika untuk ibadah pakaian perlu suci dan barangnya halal,” ujar dia.

Sama seperti Baharun, Tiar berpendapat demikian. Menurut dia, semua pakaian berikut tidak kasus kecuali digunakan untuk aktivitas lazim atau keagamaan. Yang jelas, secara komitmen ajaran Islam mampu terima budaya apa saja sepanjang budaya berikut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Selain itu, juga mampu mengakomodir keperluan ajaran Islam.

“Misalnya di dalam shalat yang mutlak menutup aurat. Maka pengembangan mode terhadap akhirnya bakal kembali kepada kreativitas penduduk untuk mengembangkan mode apa yang lebih kurang dianggap baik, indah, dan mampu di terima di banyak kalangan,” kata dia.